hit counters
Atraksi Opini Warta Wisata

Menilik Sejarah Tradisi Perang Tomat di Lembang, Bandung Barat

Menilik Sejarah Tradisi Perang Tomat di Lembang, Bandung Barat

LEMBANG.CO – LEMBANG.CO – Lembang, Kab.Bandung Barat (KBB) sudah terkenal dengan daerah penghasil sayuran. Sayuran yang ditanam banyaklah jenisnya. Terutama jenis sayuran tomat begitu banyak ditanam petani dan tumbuh subur. Tak hanya itu, bahkan ada yang namanya sejarah tradisi perang tomat. Tradisi Perang tomat, adalah tradisi tahunan warga RW 03, Kampung Cikareumbi, Cikidang, Lembang, Kab. Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.

Baca juga : Panen Melimpah, Petani Lembang Ramai-Ramai Perang Tomat

Dikutip travel.detik.com tak hanya Spanyol, Bandung Barat juga punya tradisi perang tomat. Begini sejarah dan makna filosofisnya.Tradisi perang tomat ini sudah berlangsung sejak 2012. Kegiatan ini rutin diselenggarakan tiap tahun saat awal bulan Muharam. Lokasi kegiatan unik bernama Rempug Tarung Adu Tomat atau perang tomat ini berada di Kampung Cikareumbi RW 3, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang.

Begini sejarah perang tomat di lokasi tersebut, ialah Mas Nanu Muda alias Abah Nanu yang mencetuskan perang tomat di daerah tersebut. Budayawan Sunda tersebut berkisah, 2011 silam dia terenyuh meratapi warga sekitaran Lembang yang tidak bisa memanfaatkan hasil panen berupa tomat. Kala itu, sambung Abah Nanu, harga tomat ajlok.

Lantaran tak sebanding dengan modal bertani tomat, para petani membiarkan buah berbentuk bulat itu membusuk. “Ide itu muncul saat saya melihat tomat-tomat busuk malah dibiarkan begitu saja oleh warga setempat,” kata Abah Nanu di sela-sela acara perang tomat (19/10/16). Abah Nanu lalu mengajak warga memanfaatkan tomat-tomat busuk itu menjadi suatu aktivitas berupa perang tomat.

Kegiatan perang tomat merupakan pengembangan dari tradisi Hajat Buruan yang sebelumnya digelar secara rutin. Hajat Buruan ialah suatu hiburan wujud syukur atau keberhasilan tanaman sayuran yang diungkapkan melalui sedekah sajian tumpeng dan pembagian air keramat dengan harapan mendapatkan barokah agar tanaman tumbuh subur dan mendapatkan lindungan keselamatan.

Perang tomat itu sebagai ungkapan membuang sial segala macam hal-hal buruk atau sifat yang tidak baik dalam diri masyarakat maupun hal buruk berkaitan penyakit tanaman. Simbol keburukan itu berwujud tomat busuk yang harus dilempar atau dibuang jauh-jauh. Selain itu, makna di balik perang tomat yaitu membuang hal-hal buruk seperti penyakit tanaman khususnya sayuran dan sekaligus pesta atas keberhasilan.

Tak hanya itu, perang tomat ala warga Cikareumbi dikemas dengan pertunjukan seni. Proses tradisi perang tomat diawali pertunjukan atraksi prajurit perang. Prajurit ini memakai topeng dan tameng anyaman bambu. “Manusia topeng ini ibarat setan. Nah, tomat-tomat buruk dilempar ke manusia topeng. Maknanya seperti lempar jumroh,” tutur Abah Nanu.

Foto : https://www.facebook.com/LembangCO/?ref=aymt_homepage_panel

Hingga kini, tradisi perang tomat terus dipertahankan. Acara agenda tahunan ini telah membetot perhatian wisatawan. “Perang tomat jadi terkenal. Ini juga strategi budaya yang kreatif. Kegiatan ini tidak mengadopsi tradisi perang tomat di Spanyol. Ya jelas beda, perang tomat di kampung ini ada kemasan seni dan budaya,” kata Abah Nanu.

Hanna (FYn)/ LembangCO

 

About the author

Lembang.CO

Lembang.CO

Lembang.CO menyajikan warta wisata wiraniaga Kawasan Wisata Lembang, KBB & sekitarnya. Bergabunglah menjadi citizen journalist. Kerjasama iklan, sponsorship & undang meliput hub: m.me/lembangCO

Add Comment

Click here to post a comment