hit counters
Saba Desa Warta

Dulunya Buat Kecewa, Kini Suntenjaya Sukses Jadi Desa Biogas

LEMBANG.CO – Sukajaya adalah sebuah desa diujung timur kecamatan Lembang. Sekitar tahun 2008 desa ini digunjing warga Bandung raya. Ditahun itu, desa ini banyak disebut sebagai penyebab polusi Cikapundung dibagian hulu. Limbah kotoran sapi dari desa ini dituding menjadi penyebab utamanya.

Meski sempat dikatai sebagai desa tertinggal dan penyebab limbah, namun pemerintah desa ini tidak bergeming. Inilah Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang yang kini menjelma jadi primadona.

Dalam kurun sepuluh tahun, desa ini didaulat jadi desa wisata. Dan kotoran sapi yang dulu dikeluhkan itu menjadi sumber bahan bakar masyarakat.

Lokasi Desa Suntenjaya yang bersebelahan dengan Desa Cibodas terdapat kawasan surga wisata Lembang. Ada The Lodge Maribaya, Maribaya Natural Hotspring Resort and Waterfall dan sejumlah wisata berbasis alam lainnya.

“Awalnya desa tertinggal. Lalu meningkat jadi desa swadaya dan kemudian desa berkembang. Semoga nanti jadi desa swasembada,” beber Kepala Desa Suntenjaya Asep wahyono, saat ditemui INILAH di lokasi pembuatan biogas di Kampung Asrama desa setempat, Senin (15/1/2018).

Asep menceritakan bagaimana di desanya itu banyak yang menggunakan biogas dari kotoran sapi. Dengan penuh bangga, pengoleksi seni pahat kayu ini menyebutkan bahwa aroma kotoran sapi didaerahnya bisa harum semerbak masakan dapur.

Berawal dari kondisi keprihatinan akan sumber daya uang terbatas, saat awal menjabat kepala desa dia nekad mengumpulkan masyarakat. Ia mengajak berunding untuk mengumpulkan sertifikat tanah.

Setelah surat tanah terkumpul, atas nama pemerintah desa dia bernegosiasi dengan Bank BJB. Lalu kemudian mengucurlah pinjaman dana untuk ternak sapi.

Total duit yang didapat sebesar Rp 2,5 milyar. Uang itu dijadikan modal untuk masyarakat beternak sapi perah sebanyak 2.500 ekor.

“Sekarang hampir semua warga disini punya sapi. Sekitar 15 ribu liter susu perhari. Makanya kita itu anak emas KPSBU, produksi susu melimpah,” ujarnya.

Asep melanjutkan, disaat masyarakat asyik dengan ternak sapi yang jadi mesin duit, masalah berikutnya datang. Letak geografis desa yang ada didataran tinggi menyebkan limbah kotoran bermasalah.

Kotoran sapi banyak dibuang di sungai Cikapundung. Walhasil, warga Kota dan Kabupaten Bandung yang berada di wilayah bawah teraliri sungai itu.

“Kita banyak dikeluhkan. Akhirnya mendapatkan perhatian dari Pemprov Jawa Barat dimasa Ahmad Hermawan awal menjabat,” katanya.

Pak Gubernur memiliki ide. Kawasan yang melimpah kotoran sapi itu bisa berdaya dengan sentuhan teknologi. Energi biogas adalah solusi yang dipilih.

Kata Asep, desanya itu mendapatkan sumbangan pertama dari Aher sebanyak 100 unit mesin biogas. Warga yang punya kandang mendapatkan bantuan cuma-cuma itu.

Alat biogas itu terpasang secara sinergis dari kandang sapi ke dapur masing-masing rumah. Terlihat ada sebuah bak penampung kotoran, lalu sebuah mesin dan pipa yang disalurkan ke dapur.

“Sehari rata-rata 20 kg kotoran sapi untuk bisa memasak. Yah kalau hanya untuk keperluan dapur mah lebih dari cukup,” katanya.

(Ilustrasi) Seorang anggota Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM) mendemonstrasikan memasak telur melalui pemanfaatan energi biogas yang berasal dari kotoran ternak sapi di Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat (BBPLM) Kemendesa PDTT, Jakarta, Rabu (13/4/2016). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso. Sumber: TIRTO.ID

Bantuan dari Provinsi Jawa Barat itu jadi stimulus. Harga teknologi biogas yang cukup mahal, sekitar Rp 10 juta, sudah terpenuhi oleh swadaya dan bantuan pihak lain.

“Ada dari perusahaan, Bank, ada juga dari komunitas yang memberi. Seperti sekarang, melalui istri Pak Wabup (Wakil Bupati Yayat T Soemitra), bertambah lagi bantuan biogas,” ujarnya.

Asep semakin lega. Ketika harga gas bersubsidi 3 kg langka bahkan harganya meroket, masyarakat disini terlihat tenang-tenang saja. Asep menyebut, kotoran sapi telah membantu keperluan dapur warganya.

“Ada lebih dari 200 rumah memakai bio gas. Ada satu kampung, warganya hampir 70 persen memakai biogas semua,” ujarnya.

Ditempat sama, istri Wabup KBB Ir Hj Dwina Candra Asih S MSc mengatakan, kotoran sapi yang ada di desa itu sangat berpotensi menjadi biogas.

Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik secara anaerobik atau tertutup dari udara bebas. Proses ini dapat menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan dan karbon dioksida.

“Jika pengolahan dan alatnya tepat, biogas untuk skala rumah tangga bisa sangat bermanfaat. Bisa digunakan sebagai bahan bakar memasak dan lampu untuk penerangan,” ujarnya.

Dwina mengungkapkan, alat biogas ini disumbangkan oleh yayasan dari rekan seangkatan alumnus ITB. Namanya yayasan Ganesha 83 alumni ITB.

Melalui  lembaga itu, ibu Wakil Bupati KBB ini berharap, bantuan tersebut dapat meningkatkan kemanfaatan bagi masyarakat.

“Semoga ini bermanfaat dan stimulus untuk bantuan lain. Kami berharap desa ini bisa menjadi desa wisata dan swasembada. Warga yang memakai biogas dari kotoran sapi pun bisa jadi destinasi wisata,” tandasnya.

(Fuad Hisyamudin/INILAH.COM, Foto cover: Fahmi/LEMBANG.CO)

About the author

Lembang.CO

Lembang.CO

Lembang.CO menyajikan warta wisata wiraniaga Kawasan Wisata Lembang, KBB & sekitarnya. Bergabunglah menjadi citizen journalist. Kerjasama iklan, sponsorship & undang meliput hub: m.me/lembangCO

Add Comment

Click here to post a comment